Setiap kali saya berangkat ke Kampus saya selalu bertemu sama seorang bapak-bapak paruh baya membawa wadah yang ia tanggung di pundaknya. bapak itu terlihat bersemangat karena suasana pagi hari yang masih sejuk ia tampak bersemangat melawati jalanan yang ramai. wadah yang ia tanggung itu berisi ubi entah berapa kilogram ubi yang ia tanggung tiap harinya, tapi yang jelas beban yang dia bawa sangat berat. di perjalanan menuju kampus kadang tanpa sengaja mata saya berkaca-kaca setelah melihat bapak tua itu, kasian dia tidak bisa menikmati masa tuanya, di masa tua yang seharusnya ia gunakan untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarganya dirumah. saya sering membayangkan bagaimana jika ayah saya berada di posisi yang sama seperti bapak tua itu demi menghidupi keluarganya.. Astagfirulloh! saya benar-benar tidak sanggup.
Pukul 15.00wib, tanpa sengaja saya bertemu bapak itu di Mesjid Agung, "Busett si bapak itu berjalan jauh banget, sambil memikul ubi lagi!" ketus ku sambil melihat ubi dagangannya yang tampak masih terlihat banyak. saat itu saya singgah untuk melaksanakan sholat Ashar dan bapak itupun tampaknya akan melaksanakan kewajibannya.
setelah kami selesai melaksanakan sholat, saya masih melihat bapak itu berbaring di teras mesjid, saat itu saya belum pulang dari mesjid karena waktu itu hujan deras. sambil menunggu hujan reda, sesekali saya menengok pada bapak itu, beliau terlihat lesuh seperti belum makan sejak siang, beliau memakai celana jeans yang sudah lusuh dan memakai jaket yang sedikit berlubang memakai peci putih dengan wajah yang sedikit muram, terlihat kerutan pada wajahnya yang menandakan bapak itu tak lagi mempunyai tenaga yang kuat untuk bekerja keras, meski demikian dia sangat berjuang.
saya masih haru melihat perjuangan bapak itu yang tergambar dari wajahnya, tiba-tiba bapak itu bangun dan melihat ke arah saya yang masih menatap wajahnya yang sedang lelap tidur. saya merasa malu, tapi akhirnya si bapak itu senyum pada saya. tiba-tiba dia bangun dari tidurnya dan menghampiri saya, yang saat itu tidak jauh dari tempatnya. si bapak itu bertanya dalam bahasa sunda kurang lebihnya
bapak : "Neng dari mana ?"
saya :"dari gobras pak." jawabku saat itu
bapak :"oh, gobras bapak juga sering ngider kesana neng. neng masih sekolah?"
pantas aku sering melihatnya katau dalam hati
saya : "saya kuliah pak. oh bapak dagang apa? emang asal bapak dari mana?" jawabku yang pura-pura tidak tahu dengan dagangannya saat itu
bapak :"iya neng, bapak dagang ubi tiap hari, lumayan lah nambah-nambah penghasilan buat makan anak istri di rumah, cari kerjaan jaman sekarang susah neng, apalagi bapak sudah tua gini, mana ada yang percaya dengan tenaga bapak."
saya : "iya pak jangankan yang tua, yang muda saja sulit mencari kerja jaman sekarang. yah gimana millik dan niat ya pak?" jawabku.
ingin sekali aku menanyakan keluarganya saat itu, menanyakan anaknya yang tega membiarkan bapaknya kerja keras di usia yang sudah sangat tidak mempunyai tenaga lebih lagi.
tiba-tiba dia bercerita sedikit tentang keluarganya pada saya.
"iya neng. bapak juga punya anak cowok saat lulus SMA dia ingin sekali melanjutkan kuliah, tapi apa daya bapak benar-benar tidak sanggup.biaya SMAnya saja bapak nyari sana -sini buat menutupi biaya sekolah dan bekal tiap harinya. kadang bapak ngider dari pagi sampe sore hanya cukup buat bekal sekolahnya saja. jangankan untuk kuliah makan sehari-hari saja susah neng. bapak dagang dari subuh sampai larut malam dagangan bapak kadang laku, kadang tidak sama sekali. kalaupun laku paling hanya 1 atau 3kilo saja. astagfirulloh!" bapak itu sambil menghelakan nafasnya.
saya : "iya pak!
bapak : "oh iya neng kuliah dimana? jaman sekarang banyak yang kuliah hanya mendapatkan selembar kertas saja dan membawa pangkat, tidak lebih, bahkan etika saja kadang tidak di dapatkan sama sekali. neng kuliah jangan sampe kayak gitu, pikirkan kerja keras orang tua neng dengan keringat dan pengorbanan semoga keringat bapak neng tidak sia-sia"
Nasehat bapak itu sebelum ia bergegas berangkat melanjutkan perjuangannya demi sesuap nasi.
saya : "iya pak, aamiin mudah-mudahan."
aku menjawab dengan nada haru,mendengar bapak itu bercerita saya benar-benar membayangan ayahku selama ini yang bekerja keras banting tulang demi membiayai saya sekolah agar mendapatkan yang terbaik, kadang saya masih merasa kurang dan mengeluh dengan pemberiannya. subhanalloh! betapa bodohnya diriku tidak melihat ke bawah, bahwa masih ada orang yang lebih menderita dari saya.
saya langsung teringan perjuangan ayah mata saya berkaca kaca. ternyata saya harus bersyukur dengan keadaan saya yang sekarang yang jauh lebih baik daripada beliau.
saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan jika ayah saya suatu saat mengalami hal yang sama seperti bapak itu, saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau ayah saya berjuang panas ke panasan, hujan ke hujanan dengan beban yang ada pundaknya, demi membawa rupiah yang sangat tidak cukup untuk makan saja. subhanalloh terimakasih ya Allah masih memberikan kami kesempatan dengan kehidupan yang jauh lebih layak.
Terimakasih juga ayah dengan segala perjuangannya, doaku tak akan terputus untuk ayah. semoga Allah SWT memberikan ayah umur yang panjang, sehat dan istiqomah.
semoga saya bisa membalas setiap keringat yang ayah keluarkan, walaupun tak akan pernah cukup dengan pengorbanan dan perjuangan ayah selama ini. semoga suatu saat nanti saya bisa memberikan ayah kesempatan mengunjungi rumah Allah di mekkah. Aamiin.....






0 komentar:
Posting Komentar