“gak tau pa, doain aja mudah2an lancr dan selesai tepat waktu” jawab ku
“oh gitu ya, kamu kuliah jangan main2 ya, papa udah kerja dari pagi sampai larut malam buat kamu, jangan sia-siain usaha Papa, kalau kamu udah lulus terserah kamu mau menentukan hidupmu sendiri” Kata Papa agak ketus, langsung membuka baju dan bertelanjang dada. Menghisap rokok sambil menyaksikan TV. Sesekali memindahkan Chanel yang sama sekali tidak ada yang lucu malam itu. Sampai akhirnya ia berhenti memijit tombol ketika sebuah pertandingan bola berlangsung.
Aku kala itu lagi liburan akhir semester, aku lagi bersama mereka di donggala. Aku mengambil jurusan Teknik Informatika di kampus Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Ya aku masuk Swasta. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa aku memilih Universitas Siliwangi. Padahal sejak aku menginjakkan kaki ku di SMK tidak pernah terfikir dalam pikiranku untuk masuk di universitas itu. Karena papa yang meminta untuk kuliah disini, tanpa penolakan dan jawaban yang tegas aku mau saja menuruti permintaanya. Aku paling tidak bisa menolak perintah Papa, walaupun kadang permintaanya bertolak belakang dengan hati kecilku, tapi aku percaya semua demi kebaikan ku. Karena waktu itu papa memikirkan banyak hal dan pertimbangan aku kuliah di palu, karena jarak rumah dari kampus jauh, dia takut gimana kalau anak gadisnya pulang malam dari kampus, gimana nasib aku kalau ngkost, secara pergaulan disana sangat bebas luar biasa, kita menoleh sedikit bisa bisa kita terjatuh dalam lubang pergaulan yang salah. Itulah alasan Papa menyuruhku kuliah di tasik.
Adik ku Agung baru sajakelas 5 SD. Mamahku juga seorang ibu rumah tangga yang berpenghasilan dari suami dan menunggu dari hasil usaha suaminya saja. aku sering berfikir kalau saja keadaan buruk terjadi pada bapak yang sudah di bilang tidak muda lagi untuk kerja keras, bagaimana dengan nasib adikku, karena orang tuaku bukanlah pegawai pensiunan, mau tidak mau itu akan memaksaku suatu saat nanti menjadi tulang pugung bagi keluargaku.
Sering aku bertanya jadi apakah aku ini?
Jika ditanya seperti itu aku sering bingung. Aku juga tidak bisa mendeskripsikan seperti apa ku ini . Tepatnya ketika harus menulis profile entah itu di sosial media atau mungkin di CV dan juga LinkedID ketika tugas Sekolah. Aku sering kebingungan , ya aku sebenarnya belum begitu mengenal seperti apa aku ini.
Aku mengambil teknik Informatika sebenarnya karena terlanjur mengambil jurusan Tekhnik Jaringan di SMK dan ingin lebih memperdalam ilmu teknologi. Karena aku pikir Ilmu Teknologi adalah Ilmu pasti yang akan terus berkembang. Setidaknya jika aku menguasai betul ilmu setidaknya aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih menjanjikan.
Tapi sayangnya sebenarnya aku sering menyiksa diri ku sendiri. Aku sering memaksakan apa yang tidak aku sukai. Sepertihalnya Matematika dan logika. Aku sangat lemah dalam hal itu. Aku lebih mencintai dunia yang berhubungan dengan Jiwa dan marketing. Aku masih saja tergiang - giang ucapan seorang narasumber pada kuliah umum di kampus ku dimana ia mengatakan
“Jangan memulai dari membuat, mulailah dari menjual”
Ah, aku ingin jadi bisnisman, aku ingin mempunyai butik dan rumah makan.
Aku ingin bisa berbahasa inggris, ingin juga bisa berbahasa prancis dan juga Arab. Aku ingin ahli dibidang teknologi meskipun aku belum tahu apakah otak ku yang sama sekali tidak ‘kuat’ matematika, Angka dan juga logika ini bisa menjadi seorang ahli Teknologi terutama Informatika.
Semua anak memang akan bergantung pada orang tua, tapi suatu saat pasti mereka akan melihat orang tua nya sudah tidak bisa lagi memberikan nafkah anaknya. Aku kadang sangat takut. Takut tidak bisa menjadi mandiri dimana ketika waktunya tiba untuk menghidupi diri sendiri.
Masa depan memang tidak pernah bisa diketahui, aku juga kadang masih menyimpan mimpi dan janji itu, yaitu ke mekkah bersama kedua orang tuaku, dan memohon doa bersama dirumah suci Allah SWT. Ah aku memang sedang dalam masa transisi menuju dewasa. Aku memang masih butuh waktu proses untuk pendewasaan itu. Sudah cukup jadi manusia yang ceroboh. Masa depan ku dan juga keluarga ku ada di tangan ku. Bapak juga sebentar lagi sudah sampai dibatas tanggung jawabnya untuk membesarkan ku. Dewasa itu harus dan memang sudah sewajarnya.
Ah, Bagaimana pun juga terlalu bergantung pada orang lain itu tidak baik. Aku harus bisa menyakinkan diriku sendiri agar tidak salah jalan. Aku harus mulai berfikir dewasa sekarang juga. Memikirkan sematang mungkin rancangan peta masa depan.Dewasa itu dimulai hari ini, mari ucapkan Selamat datang dewasa !. Selamat datang dewasa. Mulai sekarang setiap tindakan dan juga resiko adalah tanggung jawab mu sendiri.






0 komentar:
Posting Komentar