Aku yang selalu memandangimu dengan rasa rindu yang mungkin hanya aku dan tuhan yang pahami. Aku tidak bisa berbohong bahwa aku semakin mencintaimu, aku semakin jatuh cinta pada caramu memandangiku, caramu merangkulku, caramu memelukku, caramu merangkul bahuku, caramu menggenggam jemariku, caramu memanggilku, dan cara-cara lain yang kau lakukan-- untuk membuatku bahagia. aku tidak bisa berbohong bahwa chat darimulah yang selalu aku tunggu. kamu adalah notifikasi favoritku. Kamu adalah suntikan keajaiban yang selalu membuatku bahagia menatap layar ponselku. ketika namamu tertera disana, cepat-cepat aku membalas, dan balasan darimu juga segera masuk. Hingga hari ini hanya kamu lah yang kunanti, tapi aku cukup sadar diri bahwa kebahagiaan ini mungkin saja segera berakhir.
Aku juga cukup sadar diri bahwa kamu tidak akan mungkin aku miliki, dan kamu tidak akan mungkin memiliki perasaan yang sama terhadapku. aku cukup tahu bahwa aku dan kamu bisa saja segera berakhir, tanpa alasan dan penjelasan, tanpa ucapan perpisahan. aku cukup paham bahwa kamu bukan seutuhnya milikku karena kebersamaan kita memang hanyalah kebahagiaan sesaat yang akan hilang dengan pergantian musim atau bulan. Aku tahu semua ini bahkan akan berakhir sebelum kamu benar-benar paham seberapa dalam perasaanku.
Semua tentang akhir, mungkin kebahagiaan tidak akan pernah jadi milik kita dalam jangka panjang, maka kubiarkan kamu memelukku dengan erat, sebelum kita benar-benar berpisah. Kubiarkan kamu tetap berbisik sambil memanggil namaku dengan lembut, karena mungkin ini bisa saja pertemuan terakhir kita. Kita tidak akan pernah tahu kapan adanya perpisahan, yang kita tahu bahwa kita masih punya waktu untuk menikmati sisa-sisa waktu kita berdua miliki.
Seringkali di tengah-tengah pelukmu kamu menceritakan kekasihmu, kekasih yang selama ini kamu cintai. bercerita tentang wanita yang datang padamu, dan wanita yang kamu kagumi. Saat itu kamu mungkin tidak memikirkan betapa sesaknya dadaku. betapa sesaknya menerima kenyataan bahwa aku hanyalah pelarian untuk menghilangkan kebosanan. Ketika kamu menceritakan dia aku memilih menjadi pendengar yang baik, sambil menatap matamu dalam-dalam, berusaha mencari kesungguhan dalam mata itu, berusaha menjawab pertanyaan: adakah aku dimata dan hatimu? apa yang aku temukan? aku juga menemukan diriku dalam matamu. Tapi, bayangan itu menghilang, memudar, seakan sebuah isyarat bahwa kesalahan ini harus segera diakhiri, tetapi ada perasaan takut untuk meninggalkanmu, aku takut kehilanganmu, dan aku tidak ingin menjauh darimu.
Kamu selalu begitu, menghubungiku saat kamu sedang kesepian, kamu selalu ingin menemuiku saat kamu sedang merindu, kamu selalu meminta aku datang dan menemuimu saat kamu sedang membutuhkanku,saat kamu sedang jenuh menghadapi tuntutan dunia aku selalu jadi orang pertama yang kamu minta untuk menemanimu. Lalu, apa yang aku lakukan? aku selalu ada untuk kamu. aku selalu mengorbankan waktuku hanya untuk bertemu denganmu, aku tidak perduli dengan hujan yang membasahi tubuhku, aku tidak perduli dengan jarak yang aku tempuh, yang aku tahu kamu sedang membutuhkanku dan aku harus segera datang, karena kamu bagiku lebih penting dari segala urusan duniaku.
Aku tidak tahu harus lakukan apa sekarang, apakah aku harus lari atau aku cukup diam saja, dan menganggap semua tidak pernah terjadi? Apakah aku harus bersikap biasa saja, tetap mencintaimu seperti kemarin-kemarin, dan mengaggap pelukmu serta ucapanmu bukanlah bualan? aku tahu ucapanmu tentang perasaanmu kepadaku tidak pernah bohong. Aku tahu betul, matamu tidak akan berhasil membohongiku. Tapi, yang selalu menjadi pertanyaanku adalah jika kamu selalu nyaan bersamaku, mengapa kamu tidak pernah membiarkan dirimu hanya dimiliki oleh satu hati?
Aku tidak tahu siapa pemilik hatimu yang sesungguhnya. Yang aku tahu, kamu hanyalah pria biasa yang tidak mecintai sisi malaikat dalam diriku, justru kamu mencintai iblis dalam diriku. Kamu mencintai keliaranku, kamu mencintai cara berpikirku yang berbeda dari yang lainnya. kamu mencitai caraku melanggar segala macam peraturan demi memperjuangkan yang aku anggap benar, kamu mencintai sisi gelapku, kamu mencintaiku dalam keremangan yang menghangatkan. Yang aku suka darimu, kamu tidak sedang memaksa aku untuk memiliki sikap yang sangat malaikat, kamu justru membisikan hal-hal menyejukkan yang selalu berhasil mendiamkan iblis jahat dalam diriku.
Kita sama-sama hadir dari kegelapan. Kita sama-saa gelap. Dan, percayakah kamu bahwa semua gelap akan menemukan terang di ujung jalan?
Aku ingin ke ujung jalan. Bersamamu.
Untuk pria yang belum percaya,
bahwa jalan pulang terdekat,
selalu lebih baik,
daripada jalan pulang terjauh.