Selasa, 26 Agustus 2014
Perpisahan
Udah 2 hari berlalu, tapi galau ini gak ilang ilang.wajar sih sebenarnya baru juga dua hari, tapi ya gimana lagi, Da aku mah apa atuda :(
aku masih terbayang-bayang saat matahari masih bersembunyi di ufuk timur ketika aku sudah bersiap-siap untuk pergi. Berkali-kali aku bercermin untuk memastikan diriku sudah secantik mungkin untuk bertemu dengannya nanti, Ya Allah aku paling benci dengan kata Perpisahan aku paling gak bisa melakukan hal ini. tapi gimana lagi semua benar-benar harus terjadi keadaan benar-benar begitu menyakitkan.
Berbagai pertanyaan muncul di pikiranku saat aku duduk di kasur kamar untuk menunggu kabar darinya, bagaimana setelah ini terjadi ? sanggupkah aku melewati semuanya selama setahun tanpa dirinya, atau bahkan sampai waktu yang tidak di tentukan ? ohmygod hanya takdir tuhan yang mempertemukan kita kembali. pikirku saat itu.
Dalam penantian waktu untuk pergi dan menunggu kedatangannya, memori di otakku mulai memutar kembali bagaimana aku dan dia bertemu di rumah yang sebentar lagi akan ku tinggalkan. Memoriam itu sedikit mengusikku, membuat sesuatu bergemuruh dalam dada dan membuatku sesak hingga ingin menangis. Sesungguhnya, hari itu adalah hari yang paling sangat tidak ku nantikan, yap, hari perpisahan. Bagaimana mungkin aku bisa mengatur kerja jantungku agar tidak berdegup terlalu kencang lalu memicu kelenjar air mata untuk mengeluarkan tetes-tetesan yang disebut air mata itu? Apa gunanya dandanan cantik yang ku persiapkan sedari jam 6 pagi tadi bila akhirnya air mata akan menghapus semuanya dalam sekejap? Aku mengangkat-angkat kepalaku sembari mengedip-ngedipkan mata berharap dengan melakukannya air mataku akan kembali masuk ke dalam mataku.
Aku masih belum siap dengan perpisahan ini, sesekali otakku masih memutar kembali mengingat semua yang kita lakukan kini akan menjadi kenangan yang begitu menyakitkan, rasanya semua tidak adil, pertemuan yang tidak sebanding dengan penantian yang kita lakukan, aku masih mengingat semua yang kita lakukan bersama-sama sebentar lagi semua jadi kenangan. Saat malam perpisahan yang kita rayakan berdua aku benar –benar tidak ingin malam itu segera berakhir, aku tidak mau menghadapi hari esok. Senyuman dan keceriaan malam itu hanya topeng untuk menutupi betapa sedihnya hatiku. Tapi ketika melihatmu, aku tak kuasa lagi, gemuruh di dada ku begitu kuat, pipi ku menjadi begitu panas dan aku berusaha sekuat tenaga agar air mata itu tidak mengalir. Aku bersembunyi di belakangnya dan aku benar-benar tidak kuat dengan sendirinya air mata membasahi pipiku dan membiarkannya tidak perlu melihat aku dalam ketidakkuatanku. Maaf. Aku bersembunyi menangis dalam pelukanmu di saat-saat terakhir.
15menit berlalu dengan segundukan hayalan flashback yang tidak mungkin terulang, tapi dia belum juga ada kabar, kemudian aku memutuskan untuk menelponnya hampir 20 panggilan belum juga ada suara mengucapkan “Hallo” dari ujung telponnya, saat itu aku benar-benar cemas bercampur emosi, aku yakin kalau dia belum bangun dari tidurnya. Masa iya sih aku harus berangkat tanpa bertemu dan pamit secara langsung sama dia ? cewek manapun pasti ingin bertemu sama sang kekasih sebelum berangkat meninggalkannya. Aku benar-benar kecewa, pengen nangis dan koprol guling-gulingan(ngarang bebas) saat mengetahui waktu menujukan pukul.06.45 tapi dia belum juga ada kabar. Sudahlah mungkin ini benar-benar harus terjadi. Saat aku memutuskan untuk kerumahnya ternyata mobil pengantar sudah siap-siap untuk bearangkat 2sahabatku yang ikut mengantar ke bandarapun telah siap, aku benar-benar bingung harus bagaimana saat itu. Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba dia mengirimkan pesan singkat yang isinya “ dimana ? sory, baru bangun, hati di jalan yah syg!” subhanallah sms sesingkat itu benar-benar mengundang air mata.
Dan setelah perpisah itu terjadi, sampai saat ini aku lagi berusaha aga tetap kuat dan gak galau tanpa dirinya dalam 1tahun kedepan.
Langganan:
Komentar (Atom)





